⏳Adakah Perayaan Maulid dalam Islam...?❓❓ِ
✅Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,
⛔👈وَأَمَّا اتِّخَاذُ مَوْسِمٍ غَيْرِ الْمَوَاسِمِ الشَّرْعِيَّةِ كَبَعْضِ لَيَالِي شَهْرِ رَبِيعٍ الْأَوَّلِ الَّتِي يُقَالُ: إنَّهَا لَيْلَةُ الْمَوْلِدِ أَوْ بَعْضِ لَيَالِيِ رَجَبٍ أَوْ ثَامِنَ عَشَرَ ذِي الْحِجَّةِ أَوْ أَوَّلِ جُمْعَةٍ مِنْ رَجَبٍ أَوْ ثَامِنِ شَوَّالٍ الَّذِي يُسَمِّيهِ الْجُهَّالُ عِيدَ الْأَبْرَارِ فَإِنَّهَا مِنْ الْبِدَعِ الَّتِي لَمْ يَسْتَحِبَّهَا السَّلَفُ وَلَمْ يَفْعَلُوهَا وَاَللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَعْلَمُ.
⛔👉Adapun menentukan waktu (untuk merayakan atau mengkhususkan suatu ibadah) selain yang ditetapkan oleh syari'at, seperti:
♦• Sebagian malam di Bulan Rabi'ul Awwal yang dinamakan Malam Maulid,
♦• Atau sebagian malam Bulan Rajab,
♦• Atau tanggal 8 Dzulhijjah,
♦• Atau Jum'at pertama di Bulan Rajab,
♦• Atau tanggal 8 Bulan Syawwal yang dinamakan oleh orang-orang bodoh dengan Hari Raya Orang-orang Baik (Hari Raya Ketupat),
⛔👉Maka semua itu termasuk bid'ah yang tidak dianjurkan dan tidak pernah diamalkan oleh Generasi Salaf (Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam dan Sahabat radhiyallahu'anhum), dan Allah subhanahu wa ta'ala yang lebih mengetahui.
_____________________
📚[Majmu' Al-Fatawa, 25/298]
Rabu, 31 Desember 2014
Minggu, 29 Juni 2014
AMALAN DIBULAN RAMADHAN
Kehadiran bulan suci
Ramadhan menjadi sebuah hadiah yang indah bagi kita, karena padanya kebaikan
bernilai lebih serta berlipat ganda, dan terdapat padanya amalan-amalan yang
tidak terdapat pada bulan lainnya. Ramadhan yang hanya berlalu sEtahun sekali,
merupakan jarak waktu yang membawa kita pada suatu keadaan, dimana kita
terkadang agak terlupakan dengan amalan-amalan ditahun sebelumnya. Oleh karena
itu, mari kita bersama-sama mengingatnya kembali.
1. Puasa
Amalan yang pertama dan paling utama di bulan Ramadhan adalah melaksanakan
puasa yang merupakan rukun Islam yang keempat. Semua kita mengetahui tentang
hal itu, tapi yang perlu kita ingat bahwa puasa setiap orang dari kita berbeda
nilai dan pahalanya di sisi Allah Ta’ala.
Oleh karena itu, mari kita
berpuasa bukan sekedar untuk melepaskan kewajiban, tapi kita melaksanakannya
dengan penuh keimanan dan mengharap balasan Allah. Kita merasa senang dengan
puasa dan bukan merasa terbebani. Kita melaksanakan kewajiban dan sunnah-sunnahnya
serta meninggalkan larangan dan hal-hal yang mengurangi nilainya, sehingga kita
menjadi bagian dari sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Amalan setiap anak Adam dilipat gandakan sepuluh sampai tujuh
ratus kali lipat. Allah berfirman : ‘Kecuali puasa, ia adalah untuk-Ku. Aku
yang membalasnya (tanpa batasan tadi). Ia (orang yang berpuasa-red)
meninggalkan syahwat dan makanannya karena Aku“. (HR. Muslim)
2. Shalat Malam (Tarawih)
Shalat malam adalah shalat
sunnah yang sangat besar pahalanya baik dikerjakan di bulan Ramadhan ataupun di
luar bulan Ramadhan. Namun shalat malam di bulan Ramadhan yang kita kenal
dengan shalat Tarawih memiliki keutamaan lebih daripada di selain bulan
Ramadhan. Maka hendaklah kita berlomba-lomba untuk melakukannya. Suasana
Ramadhan dan balasan pahala yang besar memberikan kepada kita semangat yang
lebih untuk melaksanakannya. Dan semoga apa yang kita lakukan di bulan Ramadhan
menjadi latihan bagi kita untuk membiasakan diri setelah Ramadhan berlalu.
Diantara pahala yang besar
dari shalat Tarawih adalah diampuni dosa yang telah lalu, -semoga kita menjadi
bagian darinya-, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang shalat malam
di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala, diampuni dosanya
yang telah lalu“. (Muttafaqun ‘alaih)
3. Membaca dan Tadabbur Al Qur’an
Bulan Ramadhan adalah bulan
Al Qur’an. Pada bulan Ramadhan, Al Qur’an diturunkan. Allah Ta’ala berfirman, “Bulan Ramadhan, bulan yang
diturunkan di dalamnya Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan
penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan
yang bathil)” (QS. Al Baqarah : 185)
Pada bulan Ramadhan,
Jibril ‘alahis salam menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk bersama
membaca dan mengulangi bacaan Al Qur’an. Di bulan Ramadhan, para Shahabat dan
salafus shalih berlomba-lomba mengkhatamkan Al Qur’an, baik dalam bacaan shalat
ataupun bacaan di luar shalat.
Al Qur’an adalah kitab
petunjuk. Dan agar kita bisa mengambil petunjuk darinya, maka kita harus
memahami arti dan maknanya. Membaca Al Qur’an adalah amalan yang luar besar
nilainya. Tapi mentaddaburi dan memahami maknanya, kemudian mengambil petunjuk
hidup darinya, itulah tujuan Al Qur’an diturunkan. Oleh karena itu, mari kita
jadikan bulan Ramadhan bulan membaca dan mentaddaburi Al Qur’an.
4. Sedekah
Amalan ibadah bulan
Ramadhan tidak hanya yang berhubungan langsung dengan AllahTa’ala, tapi juga terdapat amalan yang memberikan efek
kebaikan langsung kepada orang lain, salah satunya adalah sedekah. Memperbanyak
sedekah di bulan Ramadhan telah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana dalam
sebuah hadist yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang
paling dermawan. Dan kedermawaan beliau akan bertambah pada bulan Ramadhan
ketika bertemu dengan Jibril. Beliau bertemu dengan Jibril setiap malam
Ramadhan untuk mempelajari Al-Qur’an, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih dermawan dari
hembusan angin (yakni sangat mudah mengeluarkan sedekah).” (HR. Bukhari)
Sedekah di bulan Ramadhan
bisa kita lakukan dengan mengeluarkan sedekah seperti biasanya, dan kita akan
mendapatkan nilai lebih jika sedekah itu dilakukan dengan memberi makanan
berbuka, karena kita mendapatkan pahala sedekah dan pahala memberi makan orang
berbuka puasa.
4. I’tikaf
I’tikaf dilakukan dengan
menetap di masjid selama waktu i’tikaf, baik itu siang ataupun malam hari, dan
tidak keluar dari masjid kecuali untuk memenuhi kebutuhan yang darurat, seperti
makan dan buang air.
Seorang yang beri’tikaf
menyibukkan dirinya hanya dengan ibadah, berdzikir, membaca Al Qur’an,
memperbanyak shalat, dan amalan-amalan ibadah yang lainnya. Ia meninggalkan
pekerjaan yang melalaikan dan amalan yang sia-sia sehingga waktu ia beri’tikaf
benar-benar menjadi waktu yang ia khususkan untuk mendekat dirinya kepada
Allah Ta’ala. I’tikah merupakan kebiasaan dan keteladan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di
bulan Ramadhan, sebagaimana yang disebutkan oleh Abu Hurairahradhiyallahu ‘anhu, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf selama
sepuluh hari setiap bulan Ramadhan, dan beri’tikaf selama dua puluh hari pada
tahun beliau wafat”. (HR. Bukhari)
5. Menghidupkan Malam Lailatul Qadar
Dengan kasih sayang dan
rahmat-Nya, Allah Ta’ala menghadiakan kita satu malam yang istimewa di bulan
Ramadhan, malam yang barangsiapa menghidupkannya, akan diampuni dosanya yang
telah lalu (HR. Bukhari). Bahkan mendapat pahala yang berlipat ganda yang lebih
baik dari amalan seribu bulan. Pahala seperti ini hanya ada pada malam itu.
Allah Ta’ala berfirman tentangnya (yang artinya), “Malam Lailatul Qadar lebih baik
dari seribu bulan” (QS. Al Qadar : 3).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menghidupkan malam
laitul qadar dan menganjurkan umatnya untuk menghidupkannya. Oleh karena itu, mari kita berlomba-lomba untuk menghidupkan malam laitul
qadar dengan memperbanyak amalan-amalan ibadah padanya.
Malam itu adalah salah satu
dari malam ganjil di sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan. Dan pada malam
ke-27, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan
isyarat kuat tentangnya, tanpa memastikannya sebagai malam lailatul qadar.
6. Umrah di Bulan Ramadhan
Setiap hati pasti rindu
untuk datang ke Masjidil Haram untuk thawaf mengelilingi Ka’bah, shalat di
hadapannya bersama jutaan kaum muslimin lainnya. Ibadah umrah dapat dilakukan
sepanjang tahun. Namun umrah di bulan Ramadhan memiliki nilai pahala yang lebih
tinggi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Umrah di bulan Ramadhan (pahalanya) menyerupai haji”
(HR. Tirmidzi)
Semoga Allah Ta’ala memudahkan jalan bagi kita untuk
melaksanakan umrah di bulan Ramadhan dan memberi taufik dan inayah-Nya kepada
kita agar dapat menghidupkan bulan Ramadhan dengan amal-amal kebaikan. Amiin.
Penulis : Ustadz Sanusin Muhammad, M.A
(Alumni S2 Universitas Islam Madinah Jurusan Tarbiyah)
Sumber : buletin.muslim.or.id
Senin, 04 November 2013
HADITS-HADITS TERKAIT PUASA SUNNAH DIBULAN MUHARRAM
@ Dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu, Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أفضل الصيام بعد رمضان ، شهر الله المحرم
“Sebaik-baik puasa setelah Ramadlan adalah puasa di bulan Allah, bulan Muharram.” (HR. Muslim)
أفضل الصيام بعد رمضان ، شهر الله المحرم
“Sebaik-baik puasa setelah Ramadlan adalah puasa di bulan Allah, bulan Muharram.” (HR. Muslim)
@ Dari Ibn Abbas radliallahu ‘anhuma, beliau
mengatakan:
ما رأيت النبي صلى الله عليه وسلم يتحرى صيام يوم فضَّلة على غيره إلا هذا اليوم يوم عاشوراء ، وهذا الشهر – يعني شهر رمضان
“Saya tidak pernah melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memilih satu hari untuk puasa yang lebih beliau unggulkan dari pada yang lainnya kecuali puasa hari Asyura’, dan puasa bulan Ramadhan.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)
Puasa Asyura’ (puasa tanggal 10 Muharram)
ما رأيت النبي صلى الله عليه وسلم يتحرى صيام يوم فضَّلة على غيره إلا هذا اليوم يوم عاشوراء ، وهذا الشهر – يعني شهر رمضان
“Saya tidak pernah melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memilih satu hari untuk puasa yang lebih beliau unggulkan dari pada yang lainnya kecuali puasa hari Asyura’, dan puasa bulan Ramadhan.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)
Puasa Asyura’ (puasa tanggal 10 Muharram)
@ Dari
Abu Musa Al Asy’ari radliallahu ‘anhu, beliau mengatakan:
كان يوم عاشوراء تعده اليهود عيداً ، قال النبي صلى الله عليه وسلم : « فصوموه أنتم ».
Dulu hari Asyura’ dijadikan orang yahudi sebagai hari raya. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Puasalah kalian.” (HR. Al Bukhari)
كان يوم عاشوراء تعده اليهود عيداً ، قال النبي صلى الله عليه وسلم : « فصوموه أنتم ».
Dulu hari Asyura’ dijadikan orang yahudi sebagai hari raya. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Puasalah kalian.” (HR. Al Bukhari)
@ Dari
Abu Qatadah Al Anshari radliallahu ‘anhu, beliau mengatakan:
سئل عن صوم يوم عاشوراء فقال كفارة سنة
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang puasa Asyura’, kemudian beliau menjawab: “Puasa Asyura’ menjadi penebus dosa setahun yang telah lewat.” (HR. Muslim dan Ahmad).
سئل عن صوم يوم عاشوراء فقال كفارة سنة
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang puasa Asyura’, kemudian beliau menjawab: “Puasa Asyura’ menjadi penebus dosa setahun yang telah lewat.” (HR. Muslim dan Ahmad).
@ Dari
Ibn Abbas radliallahu ‘anhuma, beliau mengatakan:
قَدِمَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – الْمَدِينَةَ وَالْيَهُودُ تَصُومُ عَاشُورَاءَ فَقَالُوا هَذَا يَوْمٌ ظَهَرَ فِيهِ مُوسَى عَلَى فِرْعَوْنَ . فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – لأَصْحَابِهِ «أَنْتُمْ أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْهُمْ ، فَصُومُوا».
Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai di Madinah, sementara orang-orang yahudi berpuasa Asyura’. Mereka mengatakan: Ini adalah hari di mana Musa menang melawan Fir’aun. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada para sahabat: “Kalian lebih berhak terhadap Musa dari pada mereka (orang yahudi), karena itu berpuasalah.” (HR. Al Bukhari)
قَدِمَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – الْمَدِينَةَ وَالْيَهُودُ تَصُومُ عَاشُورَاءَ فَقَالُوا هَذَا يَوْمٌ ظَهَرَ فِيهِ مُوسَى عَلَى فِرْعَوْنَ . فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – لأَصْحَابِهِ «أَنْتُمْ أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْهُمْ ، فَصُومُوا».
Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai di Madinah, sementara orang-orang yahudi berpuasa Asyura’. Mereka mengatakan: Ini adalah hari di mana Musa menang melawan Fir’aun. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada para sahabat: “Kalian lebih berhak terhadap Musa dari pada mereka (orang yahudi), karena itu berpuasalah.” (HR. Al Bukhari)
Keterangan:
1.
Puasa Asyura’ merupakan kewajiban puasa pertama
dalam islam, sebelum Ramadlan. Dari Rubayyi’ binti Mu’awwidz radliallahu ‘anha,
beliau mengatakan:
أرسل النبي صلى الله عليه وسلم غداة عاشوراء إلى قرى الأنصار : ((من أصبح مفطراً فليتم بقية يومه ، ومن أصبح صائماً فليصم)) قالت: فكنا نصومه بعد ونصوّم صبياننا ونجعل لهم اللعبة من العهن، فإذا بكى أحدهم على الطعام أعطيناه ذاك حتى يكون عند الإفطار
Suatu ketika, di pagi hari Asyura’, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus seseorang mendatangi salah satu kampung penduduk Madinah untuk menyampaikan pesan: “Siapa yang di pagi hari sudah makan maka hendaknya dia puasa sampai maghrib. Dan siapa yang sudah puasa, hendaknya dia lanjutkan puasanya.” Rubayyi’ mengatakan: Kemudian setelah itu kami puasa, dan kami mengajak anak-anak untuk berpuasa. Kami buatkan mereka mainan dari kain. Jika ada yang menangis meminta makanan, kami memberikan mainan itu. Begitu seterusnya sampai datang waktu berbuka. (HR. Al Bukhari dan Muslim)
أرسل النبي صلى الله عليه وسلم غداة عاشوراء إلى قرى الأنصار : ((من أصبح مفطراً فليتم بقية يومه ، ومن أصبح صائماً فليصم)) قالت: فكنا نصومه بعد ونصوّم صبياننا ونجعل لهم اللعبة من العهن، فإذا بكى أحدهم على الطعام أعطيناه ذاك حتى يكون عند الإفطار
Suatu ketika, di pagi hari Asyura’, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus seseorang mendatangi salah satu kampung penduduk Madinah untuk menyampaikan pesan: “Siapa yang di pagi hari sudah makan maka hendaknya dia puasa sampai maghrib. Dan siapa yang sudah puasa, hendaknya dia lanjutkan puasanya.” Rubayyi’ mengatakan: Kemudian setelah itu kami puasa, dan kami mengajak anak-anak untuk berpuasa. Kami buatkan mereka mainan dari kain. Jika ada yang menangis meminta makanan, kami memberikan mainan itu. Begitu seterusnya sampai datang waktu berbuka. (HR. Al Bukhari dan Muslim)
2.
Setelah Allah wajibkan puasa Ramadlan, puasa
Asyura’ menjadi puasa sunnah. A’isyah radliallahu ‘anha mengatakan:
كان يوم عاشوراء تصومه قريش في الجاهلية ،فلما قد المدينة صامه وأمر بصيامه ، فلما فرض رمضان ترك يوم عاشوراء ، فمن شاء صامه ، ومن شاء تركه
Dulu hari Asyura’ dijadikan sebagai hari berpuasa orang Quraisy di masa jahiliyah. Setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, beliau melaksanakn puasa Asyura’ dan memerintahkan sahabat untuk berpuasa. Setelah Allah wajibkan puasa Ramadlan, beliau tinggalkan hari Asyura’. Siapa yang ingin puasa Asyura’ boleh puasa, siapa yang tidak ingin puasa Asyura’ boleh tidak puasa. (HR. Al Bukhari dan Muslim)
كان يوم عاشوراء تصومه قريش في الجاهلية ،فلما قد المدينة صامه وأمر بصيامه ، فلما فرض رمضان ترك يوم عاشوراء ، فمن شاء صامه ، ومن شاء تركه
Dulu hari Asyura’ dijadikan sebagai hari berpuasa orang Quraisy di masa jahiliyah. Setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, beliau melaksanakn puasa Asyura’ dan memerintahkan sahabat untuk berpuasa. Setelah Allah wajibkan puasa Ramadlan, beliau tinggalkan hari Asyura’. Siapa yang ingin puasa Asyura’ boleh puasa, siapa yang tidak ingin puasa Asyura’ boleh tidak puasa. (HR. Al Bukhari dan Muslim)
3.
Puasa Tasu’a (puasa tanggal 9 Muharram)
Dari
Ibn Abbas radliallahu ‘anhuma, beliau menceritakan:
حين صام رسول الله صلى الله عليه وسلم يوم عاشوراء وأمر بصيامه ، قالوا : يا رسول الله ! إنه يوم تعظمه اليهود والنصارى ، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ((فإذا كان العام المقبل ، إن شاء الله ، صمنا اليوم التاسع )) . قال : فلم يأت العام المقبل حتى تُوفي رسول الله صلى الله عليه وسلم
Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan puasa Asyura’ dan memerintahkan para sahabat untuk puasa. Kemudian ada sahabat yang berkata: Ya Rasulullah, sesungguhnya hari Asyura adalah hari yang diagungkan orang yahudi dan nasrani. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tahun depan, kita akan berpuasa di tanggal sembilan.” Namun, belum sampai tahun depan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamsudah diwafatkan. (HR. Al Bukhari)
حين صام رسول الله صلى الله عليه وسلم يوم عاشوراء وأمر بصيامه ، قالوا : يا رسول الله ! إنه يوم تعظمه اليهود والنصارى ، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ((فإذا كان العام المقبل ، إن شاء الله ، صمنا اليوم التاسع )) . قال : فلم يأت العام المقبل حتى تُوفي رسول الله صلى الله عليه وسلم
Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan puasa Asyura’ dan memerintahkan para sahabat untuk puasa. Kemudian ada sahabat yang berkata: Ya Rasulullah, sesungguhnya hari Asyura adalah hari yang diagungkan orang yahudi dan nasrani. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tahun depan, kita akan berpuasa di tanggal sembilan.” Namun, belum sampai tahun depan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamsudah diwafatkan. (HR. Al Bukhari)
Adakah anjuran puasa tanggal 11 Bulan Muharram?
Sebagian ulama berpendapat, dianjurkan
melaksanakan puasa tanggal 11 Muharram, setelah puasa Asyura’. Pendapat ini berdasarkan
hadis:
صوموا يوم عاشوراء وخالفوا فيه اليهود وصوموا قبله يوما أو بعده يوما
“Puasalah hari Asyura’ dan jangan sama dengan model orang yahudi. Puasalah sehari sebelumnya atau sehari setelahnya.” (HR. Ahmad, Al Bazzar).
Hadis ini dihasankan oleh Syaikh Ahmad Syakir. Hadis ini juga dikuatkan hadis lain, yang diriwayatkan Al-Baihaqi dalam Sunan Al-Kubra dengan lafadz:
صوموا قبله يوماً وبعده يوماً
“Puasalah sehari sebelumnya dan sehari sesudahnya.”
Dengan menggunakan kata hubung وَ (yang berarti “dan”) sementara hadis sebelumnya menggunakan kata hubung أَوْ (yang artinya “atau”).
Al-Hafidz Ibn Hajar menjelaskan status hadis di atas:
Hadis ini diriwayatkan Ahmad dan al-Baihaqi dengan sanad dhaif, karena keadaan perawi Muhammad bin Abi Laila yang lemah. Akan tetapi dia tidak sendirian. Hadis ini memiliki jalur penguat dari Shaleh bin Abi Shaleh bin Hay. (Ittihaf al-Mahrah, hadis no. 2225)
Demikian keterangan Syaikh Muhammad bin Shaleh al-Munajed.
Sementara itu, ulama lain berpendapat bahwa puasa tanggal 11 tidak disyariatkan, karena hadis ini sanadnya dhaif. Sebagaimana keterangan Al Albani dan Syaikh Syu’aib Al Arnauth dalam ta’liq musnad Ahmad. Hanya saja dianjurkan untuk melakukan puasa tiga hari, jika dia tidak bisa memastikan tanggal 1 Muharam, sebagai bentuk kehati-hatian.
Imam Ahmad mengatakan:
Jika awal bulan Muharram tidak jelas maka sebaiknya puasa tiga hari: (tanggal 9, 10, dan 11 Muharram), Ibnu Sirrin menjelaskan demikian. Beliau mempraktekkan hal itu agar lebih yakin untuk mendapatkan puasa tanggal 9 dan 10. (Al Mughni, 3/174. Diambil dari Al Bida’ Al Hauliyah, hal. 52).
Disamping itu, melakukan puasa 3 hari, di tanggal 9, 10, dan 11 Muharram, masuk dalam cakupan hadis yang menganjurkan untuk memperbanyak puasa selama di bulan Muharram. Sebagaimana yang dinyatakan dalam hadis dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sebaik-baik puasa setelah Ramadlan adalah puasa di bulan Allah, bulan Muharram.” (HR. Muslim)
Ibnul Qayim menjelaskan bahwa puasa terkait hari Asyura ada tiga tingkatan:
Tingkatan paling sempurna, puasa tiga hari. Sehari sebelum Asyura, hari Asyura, dan sehari setelahnya.
Tingkatan kedua, puasa tanggal 9 dan tanggal 10 Muharram. Ini berdasarkan banyak hadis.
Tingkatan ketiga, puasa tanggal 10 saja.
(Zadul Ma’ad, 2/72)
Bolehkah puasa tanggal 10 saja?
صوموا يوم عاشوراء وخالفوا فيه اليهود وصوموا قبله يوما أو بعده يوما
“Puasalah hari Asyura’ dan jangan sama dengan model orang yahudi. Puasalah sehari sebelumnya atau sehari setelahnya.” (HR. Ahmad, Al Bazzar).
Hadis ini dihasankan oleh Syaikh Ahmad Syakir. Hadis ini juga dikuatkan hadis lain, yang diriwayatkan Al-Baihaqi dalam Sunan Al-Kubra dengan lafadz:
صوموا قبله يوماً وبعده يوماً
“Puasalah sehari sebelumnya dan sehari sesudahnya.”
Dengan menggunakan kata hubung وَ (yang berarti “dan”) sementara hadis sebelumnya menggunakan kata hubung أَوْ (yang artinya “atau”).
Al-Hafidz Ibn Hajar menjelaskan status hadis di atas:
Hadis ini diriwayatkan Ahmad dan al-Baihaqi dengan sanad dhaif, karena keadaan perawi Muhammad bin Abi Laila yang lemah. Akan tetapi dia tidak sendirian. Hadis ini memiliki jalur penguat dari Shaleh bin Abi Shaleh bin Hay. (Ittihaf al-Mahrah, hadis no. 2225)
Demikian keterangan Syaikh Muhammad bin Shaleh al-Munajed.
Sementara itu, ulama lain berpendapat bahwa puasa tanggal 11 tidak disyariatkan, karena hadis ini sanadnya dhaif. Sebagaimana keterangan Al Albani dan Syaikh Syu’aib Al Arnauth dalam ta’liq musnad Ahmad. Hanya saja dianjurkan untuk melakukan puasa tiga hari, jika dia tidak bisa memastikan tanggal 1 Muharam, sebagai bentuk kehati-hatian.
Imam Ahmad mengatakan:
Jika awal bulan Muharram tidak jelas maka sebaiknya puasa tiga hari: (tanggal 9, 10, dan 11 Muharram), Ibnu Sirrin menjelaskan demikian. Beliau mempraktekkan hal itu agar lebih yakin untuk mendapatkan puasa tanggal 9 dan 10. (Al Mughni, 3/174. Diambil dari Al Bida’ Al Hauliyah, hal. 52).
Disamping itu, melakukan puasa 3 hari, di tanggal 9, 10, dan 11 Muharram, masuk dalam cakupan hadis yang menganjurkan untuk memperbanyak puasa selama di bulan Muharram. Sebagaimana yang dinyatakan dalam hadis dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sebaik-baik puasa setelah Ramadlan adalah puasa di bulan Allah, bulan Muharram.” (HR. Muslim)
Ibnul Qayim menjelaskan bahwa puasa terkait hari Asyura ada tiga tingkatan:
Tingkatan paling sempurna, puasa tiga hari. Sehari sebelum Asyura, hari Asyura, dan sehari setelahnya.
Tingkatan kedua, puasa tanggal 9 dan tanggal 10 Muharram. Ini berdasarkan banyak hadis.
Tingkatan ketiga, puasa tanggal 10 saja.
(Zadul Ma’ad, 2/72)
Bolehkah puasa tanggal 10 saja?
Sebagian ulama berpendapat, puasa tanggal 10 saja hukumnya
makruh. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berencana untuk puasa tanggal
9, di tahun berikutnya, dengan tujuan menyelisihi model puasa orang yahudi. Ini
merupakan pendapat Syaikh Ibn Baz rahimahullah.
Sementara itu, ulama yang lain berpendapat bahwa melakukan
puasa tanggal 10 saja tidak makruh. Akan tetapi yang lebih baik, diiringi
dengan puasa sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya, dalam rangka
melaksanakan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Dalam majmu’ fatawa, Syaikh Ibnu Utsaimin pernah ditanya:
Bolehkah puasa tanggal 10 Muharam saja, tanpa puasa sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya. Mengingat ada sebagian orang yang mengatakan bahwa hukum makruh untuk puasa tanggal 10 muharram telah hilang, disebabkan pada saat ini, orang yahudi dan nasrani tidak lagi melakukan puasa tanggal 10.
Beliau menjawab:
Makruhnya puasa pada tanggal 10 saja, bukanlah pendapat yang disepakati para ulama. Diantara mereka ada yang berpendapat tidak makruh melakukan puasa tanggal 10 saja, namun sebaiknya dia berpuasa sehari sebelumnya atau sehari setelahnya. Dan puasa tanggal 9 lebih baik dari pada puasa tanggal 11. Maksudnya, yang lebih baik, dia berpuasa sehari sebelumnya, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Jika saya masih hidup tahun depan, saya akan puasa tanggal sembilan (muharram).” maksud beliau adalah puasa tanggal 9 dan 10 muharram….. Pendapat yang lebih kuat, melaksanakan puasa tanggal 10 saja hukumnya tidak makruh. Akan tetapi yang lebih baik adalah diiringi puasa sehari sebelumnya atau sehari setelahnya. (Majmu’ Fatawa Ibn Utsaimin, 20/42)
Semoga bermanfaat
* Dikutip dari berbagai Sumber
Bolehkah puasa tanggal 10 Muharam saja, tanpa puasa sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya. Mengingat ada sebagian orang yang mengatakan bahwa hukum makruh untuk puasa tanggal 10 muharram telah hilang, disebabkan pada saat ini, orang yahudi dan nasrani tidak lagi melakukan puasa tanggal 10.
Beliau menjawab:
Makruhnya puasa pada tanggal 10 saja, bukanlah pendapat yang disepakati para ulama. Diantara mereka ada yang berpendapat tidak makruh melakukan puasa tanggal 10 saja, namun sebaiknya dia berpuasa sehari sebelumnya atau sehari setelahnya. Dan puasa tanggal 9 lebih baik dari pada puasa tanggal 11. Maksudnya, yang lebih baik, dia berpuasa sehari sebelumnya, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Jika saya masih hidup tahun depan, saya akan puasa tanggal sembilan (muharram).” maksud beliau adalah puasa tanggal 9 dan 10 muharram….. Pendapat yang lebih kuat, melaksanakan puasa tanggal 10 saja hukumnya tidak makruh. Akan tetapi yang lebih baik adalah diiringi puasa sehari sebelumnya atau sehari setelahnya. (Majmu’ Fatawa Ibn Utsaimin, 20/42)
Semoga bermanfaat
* Dikutip dari berbagai Sumber
Senin, 02 September 2013
SALIM MAULA ABU HUDZAIFAH
Pada suatu
hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpesan kepada para shahabatnya,
katanya: “Ambillah olehmu al-Quran itu
dari empat orang, yaitu: Abdullah bin Mas’ud, Salim maula Abu Hudzaifah, Ubai
bin Ka’ab dan Mu’adz bin Jabal … !”
Dulu kita
telah mengenal Ibnu Mas’ud, Ubai dan Mu’adz! Maka siapakah kiranya shahabat
yang keempat yang dijadikan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai andalan
dan tempat bertanya dalam mengajarkan al-Qur’an …? Ia adalah Salim radhiyallahu
‘anhu, maula Abu Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu ….Pada mulanya ia hanyalah
seorang budak belian, dan kemudian Islam memperbaiki kedudukannya, hingga
diambil sebagai anak angkat oleh salah seorang pemimpin Islam terkemuka (Abu
Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu), yang sebelum masuk Islam juga adalah seorang
bangsawan Quraisy dan salah seorang pemimpinnya. Dan tatkala Islam
menghapus adat kebiasaan memungut anak angkat, Salim radhiyallahu ‘anhu-pun
menjadi saudara, teman sejawat serta maula (= hamba yang telah dimerdekakan)
bagi orang yang memungutnya sebagai anak tadi, yaitu shahabat yang mulia
bernama Abu Hudzaifah bin ‘Utbah radhiyallahu ‘anhu.
Berkat
karunia dan ni’mat dari Allah Ta’ala, Salim radhiyallahu ‘anhu mencapai
kedudukan tinggi dan terhormat di kalangan Muslimin, yang dipersiapkan baginya
oleh keutamaan jiwanya,serta perangai dan ketakwaannya. Shahabat Rasul yang
mulia ini disebut “Salim radhiyallahu ‘anhu maula Abu Hudzaifah radhiyallahu
‘anhu”, ialah karena dulunya ia seorang budak belian dan kemudian dibebaskan!
Dan ia beriman kepada Allah dan Rasul-Nya tanpa menunggu lama …, dan mengambil
tempatnya di antara orang-orang Islam angkatan pertama. Kelebihannya yang
paling menonjol ialah mengemukakan apa yang dianggapnya benar secara terus
terang. Ia tidak menutup mulut terhadap suatu kalimat yang seharusnya diucapkannya,
dan ia tak hendak mengkhianati hidupnya dengan berdiam diri terhadap kesalahan
yang menekan jiwanya … !
Setelah kota
Mekah dibebaskan oleh Kaum Muslimin, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
mengirimkan beberapa rombongan ke kampung-kampung dan suku-suku Arab sekeliling
Mekah, dan menyampaikan kepada penduduknya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam sengaja mengirim mereka itu untuk berda’wah bukan untuk berperang. Dan
sebagai pemimpin dari salah satu pasukan ialah Khalid bin Walid radhiyallahu
‘anhu.
Ketika
Khalid radhiyallahu ‘anhu sampai di tempat yang dituju, terjadilah suatu
peristiwa yang menyebabkannya terpaksa mengunakan senjata dan menumpahkan
darah. Sewaktu peristiwa ini sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau memohon ampun kepada
Tuhannya amat lama sekali sambil katanya: “Ya Allah, aku berlepas diri
kepada-Mu dari apa yang dilakukan oleh Khalid … !” Juga peristiwa tersebut tak
dapat dilupakan oleh Umar radhiyallahu ‘anhu, ia pun mengambil perhatian khusus
terhadap pribadi Khalid katanya: “Sesungguhnya pedang Khalid terlalu tajam … !”
Dalam
ekspedisi yang dipimpin oleh Khalid radhiyallahu ‘anhu ini ikut Salim
radhiyallahu ‘anhu maula Abu Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu serta
shahabat-shahabat lainnya Dan demi melihat perbuatan Khalid tadi, Salim
radhiyallahu ‘anhu menegurnya dengan sengit dan menjelaskan kesalahan-kesalahan
yang telah dilakukannya. Sementara Khalid, pahlawan besar di masa jahiliyah dan
di zaman Islam itu, mula-mula diam dan mendengarkan apa yang dikemukakan
temannya itu kemudian membela dirinya, akhirnya meningkat menjadi perdebatan
yang sengit. Tetapi Salim radhiyallahu ‘anhu tetap berpegang pada pendiriannya
dan mengemukakannya tanpa takut-takut atau bermanis mulut.
Ketika itu
ia memandang Khalid bukan sebagai salah seorang bangsawan Mekah, dan ia pun
tidak merendah diri karena dahulu ia seorang budak belian, tidak..! Karena
Islam telah menyamakan mereka! Begitu pula ia tidaklah memandangnya sebagai
seorang panglima yang kesalahan-kesalahannya harus dibiarkan begitu saja, tetapi
ia memandang Khalid sebagai serikat dan sekutunya dalam kewajiban dan tanggung
jawab. Serta ia menentang dan menyalahkan Khalid itu bukanlah karena ambisi
atau suatu maksud tertentu, ia hanya melaksanakan nasihat yang diakui haqnya
dalam Islam, dan yang telah lama didengarnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi
wasallam bahwa nasihat itu merupakan teras dan tiang tengah Agama, sabdanya:
Agama itu ialah nasihat … !
“Agama itu ialah nasihat … ! “Agama itu ialah nasihat … ! Dan ketika Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam mendengar perbuatan Khalid bin Walid, beliau
bertanya, katanya: “Adakah yang menyanggahnya … ? Alangkah agungnya pertanyaan
itu, dan alangkah mengharukan… ! Dan amarahnya shallallahu ‘alaihi wasallam
menjadi surut, ketika mereka mengatakan pada beliau: “Ada, Salim radhiyallahu
‘anhu menegur dan menyanggahnya … !’
Salim
radhiyallahu ‘anhu hidup mendampingi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
dan orang-orang beriman. Tidak pernah ketinggalan dalam suatu peperangan
mempertahankan Agama, dan tak kehilangan gairah dalam suatu ibadah. Sementara
persaudaraannya dengan Abu Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, makin hari makin
bertambah erat dan kukuh jua! Saat itu berpulanglah Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam ke rahmatullah. Dan khilafat Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu
menghadapi persekongkolan jahat dari orang-orang murtad. Dan tibalah saatnya
pertempuran Yamamah ! Suatu peperangan sengit, yang merupakan ujian terberat
bagi Islam… !
Maka berangkatlah Kaum Muslimin untuk
berjuang. Tidak ketinggalan Salim radhiyallahu ‘anhu bersama Abu Hudzaifah
radhiyallahu ‘anhu radhiyallahu ‘anhu saudara seagama.
Di awal
peperangan, Kaum Muslimin tidak bermaksud hendak menyerang. Tetapi setiap
Mu’min telah merasa bahwa peperangan ini adalah peperangan yang menentukan,
sehingga segala akibatnya menjadi tanggung jawab bersama! Mereka dikumpulkan
sekali lagi oleh Khalid bin Walid radhiyallahu ‘anhu, yang kembali menyusun
barisan dengan cara dan strategi yang mengagumkan. Kedua saudara, Abu Hudzaifah
radhiyallahu ‘anhu dan Salim radhiyallahu ‘anhu berpelukan dan sama berjanji
siap mati syahid demi Agama yang haq, yang akan mengantarkan mereka kepada
keberuntungan dunia dan akhirat. Lalu kedua saudara itu pun menerjunkan diri ke
dalam kancah yang sedang bergejolak … ! Abu Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu
berseru meneriakkan: “Hai pengikut-pengikut al-Quran…
! Hiasilah al-Quran dengan amal-amal kalian … !” Dan bagai angin puyuh,
pedangnya berkelibatan dan menghunjamkan tusukan-tusukan kepada anak buah
Musailamah…, sementara
Salim radhiyallahu ‘anhu berseru pula, katanya: – “Amat buruk nasibku sebagai pemikul tanggung jawab al-Quran,
apabila benteng Kaum Muslimin bobol karena kelalaianku… !” “Tidak mungkin
demikian, wahai Salim radhiyallahu ‘anhu… ! Bahkan engkau adalah sebaik-baik
pemikul al-Quran … !”ujar Abu
Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu. Pedangnya bagai menari-nari menebas dan menusuk
pundak orang-ouang murtad, yang bangkit berontak hendak mengembalikan jahiliyah
Quraisy dan memadamkan cahaya Islam ….
Tiba-tiba salah sebuah pedang orang-orang
murtad itu menebas tangannya hingga putus …, tangan yang dipergunakannya untuk
memanggul panji Muhajirin, setelah gugur pemanggulnya yang pertama, ialah Zaid
bin Khatthab radhiyallahu ‘anhu. Tatkala tangan kanannya itu buntung dan panji
itu jatuh segeralah dipungutnya dengan tangan kirinya lalu terus-menerus
diacungkannya tinggi-tinggi sambil mengumandangkan ayat al-Quran berikut ini: Dan berapa banyak nabi yang berperang bersama-sama mereka
sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertaqwa. Mereka tidak menjadi lemah
karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak
(pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar. (QS.
3:146)
Wahai, suatu semboyan yang maha agung… !
Yakni semboyan yang dipilih Salim radhiyallahu ‘anhu saat menghadapi ajalnya …
!
Sekelompok
orang-orang murtad mengepung dan menyerbunya, hingga pahlawan itu pun rubuhlah.
Tetapi ruhnya belum juga keluar dari tubuhnya yang suci, sampai pertempuran itu
berakhir dengan terbunuhnya Musailamah si Pembohong dan menyerah kalahnya
tentara murtad serta menangnya tentara Muslimin. Dan ketika Kaum Muslimin
mencari-cari korban dan syuhada mereka, mereka temukan Salim radhiyallahu ‘anhu
dalam sekarat maut. Sempat pula ia bertanya pada mereka: “Bagaimana nasib Abu
Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu?” “Ia telah menemui syahidnya”, ujar mereka.
“Baringkan daku di sampingnya “, katanya
pula. “lni dia di sampingmu, wahai Salim radhiyallahu ‘anhu ! Ia telah menemui syahidnya di tempat ini !” Mendengar jawaban itu tampaklah senyumnya
yang akhir dan setelah itu ia tidak berbicara lagi. Ia telah menemukan bersama
saudaranya apa yang mereka dambakan selama ini. Mereka masuk Islam secara bersama. Hidup
secara bersama dan kemudian mati syahid secara bersama pula. Persamaan nasib
yang amat….yang amat indah … !
Rabu, 14 Agustus 2013
Rabu, 24 Juli 2013
MADING TENTANG WAKTU
Karena keterbatasan ruang maka kami hanya memasukkan beberapa waktu diantara begitu banyak waktu2 yang memiliki keutamaan tersendiri.
Berikut beberapa isi dari mading di atas :
Kamis, 18 Juli 2013
WAKTU2 UTAMA UNTUK BERDOA & BERIBADAH
Ada beberapa waktu yang memiliki keutamaan, dimana amalan pahala kita akan dilipatgandakan dan doa pada waktu tersebut akan mustajab. Sembilan diantaranya:
Langganan:
Postingan (Atom)












